Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci, Bupati Ipuk Sampaikan Belasungkawa dan Ajak Jamaah Tingkatkan Kewaspadaan Kesehatan

Banyuwangi, harianlenteraindonesia.co.id

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya satu jamaah haji asal Banyuwangi, H. Bilal bin Sangidun (85 tahun), warga Dusun Pancursari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, yang tergabung dalam Kloter 83 yang meninggal dunia di Tanah Suci pada Rabu, 3 Juni 2026 pukul 10.12 Waktu Arab Saudi (WAS).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan belasungkawa atas wafatnya almarhum saat menunaikan ibadah haji.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga almarhum Bapak H. Bilal bin Sangidun memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT, seluruh amal ibadah hajinya diterima, diampuni segala khilafnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Bupati Ipuk.

Bupati Ipuk juga mengajak seluruh masyarakat Banyuwangi untuk mendoakan seluruh jamaah haji yang saat ini masih menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kemudahan dalam beribadah hingga kembali ke tanah air.

“Kami terus memantau kondisi jamaah Banyuwangi melalui petugas kloter dan tim kesehatan. Mohon doa seluruh masyarakat agar seluruh jamaah yang masih berada di Tanah Suci selalu diberikan kesehatan, kelancaran, dan kembali ke Banyuwangi dalam keadaan sehat dan selamat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menjelaskan, bahwa almarhum termasuk jamaah lanjut usia yang selama beberapa hari terakhir mendapatkan pemantauan intensif dari Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) karena mengalami gangguan pernapasan.

Berdasarkan laporan medis, pada 31 Mei 2026 almarhum mengeluhkan sesak napas disertai batuk berdahak dengan hasil pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen (SpO₂) sebesar 88 persen, di bawah batas normal.

Tim kesehatan kemudian melakukan terapi rutin, observasi ketat, serta konsultasi dengan dokter spesialis paru. Kondisi jamaah sempat membaik dengan peningkatan saturasi oksigen hingga mencapai 90 persen.

Namun pada 3 Juni 2026 pagi, kondisi kesehatan almarhum kembali menurun. Saat pemeriksaan rutin dan tindakan nebulisasi, almarhum mengeluhkan sesak napas, badan lemas, dan tidak nafsu makan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 100/60 mmHg, denyut nadi 103 kali per menit, dan saturasi oksigen turun drastis hingga 71 persen, yang menandakan kondisi kekurangan oksigen berat.

Tim kesehatan segera menyarankan rujukan untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Sekitar 30 menit kemudian, keluarga melaporkan almarhum dalam kondisi tidak sadar dan ditemukan bekas muntahan di sekitar pasien.

Saat dilakukan pemeriksaan kegawatdaruratan, tekanan darah maupun denyut nadi sudah tidak teraba.

Petugas kesehatan segera melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebanyak tiga siklus. Namun upaya tersebut tidak berhasil mengembalikan fungsi jantung dan pernapasan pasien sehingga almarhum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 10.12 WAS.

Kepala Dinas Kesehatan menjelaskan, bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematian almarhum adalah aspirasi, yaitu kondisi ketika muntahan atau isi lambung masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru sehingga menyebabkan gangguan pernapasan berat yang dapat berujung pada henti napas dan henti jantung.

“Pada usia lanjut, terutama yang sedang mengalami gangguan pernapasan dan kondisi fisik yang menurun, risiko aspirasi menjadi lebih tinggi. Karena itu setiap keluhan sesak napas, muntah, penurunan kesadaran, tidak mau makan atau minum, serta penurunan kondisi umum harus segera dilaporkan kepada petugas kesehatan,” jelasnya.

Hingga saat ini, kondisi kesehatan jamaah haji Banyuwangi secara umum masih terkendali. Dari total 1.317 jamaah Kloter 82–85, terdapat sekitar 401 jamaah kategori risiko tinggi (30,4 persen) yang terus dipantau oleh petugas kesehatan.

Sebagian besar jamaah masih dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan baik meskipun menghadapi suhu panas dan kelelahan fisik pasca pelaksanaan Armuzna.

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi kembali mengingatkan seluruh jamaah untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan secara teratur, menggunakan alat pelindung dari paparan panas, serta meminum obat rutin sesuai anjuran dokter.

“Ibadah haji adalah ibadah fisik dan spiritual. Karena itu menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari ikhtiar agar jamaah dapat menyempurnakan seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Kami mengimbau seluruh jamaah untuk tidak menunda melaporkan keluhan kesehatan sekecil apa pun kepada petugas kesehatan kloter,” pungkas Kepala Dinas Kesehatan.

Semoga almarhum memperoleh haji yang mabrur, husnul khatimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Data Update Jamaah Haji Banyuwangi 2026:
Total jamaah Kloter 82–85: 1.317 orang
Jamaah risiko tinggi (risti): 401 orang (30,4%)
Jamaah wafat hingga 3 Juni 2026: 2 orang.

Penulis: Aji

Pos terkait