Dinas Pendidikan Depok di 2027 Fokus Benahi Sarpras dan Perkuat Literasi-Numerasi

 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, S.Pi,

Depok ,harianlenteraindonesia.co.id  Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok Gelar Pra Forum rencana kerja (Renja) 2027, yang berfokus pada pembenahan sarana prasarana ( Sarpras) juga Perkuat Literasi-Numerasi.
Acara digelar Pra Renja Tahun secara daring pada Kamis, (26/2/26). Kegiatan ini diikuti seluruh sekolah Taman Kanak-Kanak Negeri (TKN), Sekolah Dasar Negeri (SDN), Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) se-Kota Depok.

Pra Forum Renja Tahun 2027 mengusung tema “Penguatan Literasi dan Numerasi Mewujudkan Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing.”

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, S.Pi, dalam sambutan mengatakan, masih terdapat banyak sekolah di Kota Depok yang kondisi bangunan dan sarana-prasarananya memprihatinkan. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan dan rehabilitasi sarpras pendidikan harus menjadi fokus utama secara berkelanjutan.

“Dari gambaran yang ada, masih banyak sekolah kita yang kondisi bangunan dan sarana-prasarananya memprihatinkan. Kita mesti fokus ke sana. Mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan secara mayoritas bisa kita selesaikan, meskipun belum 100 persen. Karena itu, perencanaan harus kita susun dari tahun ke tahun, mulai 2027 sampai 2030.”

Lanjut Wahid dikatakan, Ia meminta seluruh kepala sekolah untuk mengisi data kondisi sekolah secara jujur, objektif, dan akurat melalui tautan yang telah disediakan. Data tersebut mencakup kondisi gedung sekolah, sarana-
prasarana kelas, mebeler, hingga rasio ruang kelas terhadap rombongan belajar (rombel).

 

” Sampaikan kondisi yang senyatanya, jangan dilebihkan dan jangan dikurang-kurangkan. Kita ingin menyusun roadmap pendidikan Kota Depok yang terencana, tidak parsial, agar kenyamanan proses belajar mengajar bisa benar-benar terwujud.”

Selain sarana-prasarana juga pentingnya adanya pemetaan daya tampung sekolah terkait penerimaan peserta didik baru (PPDB), khususnya untuk menghindari keberadaan kelas siang yang tidak ideal.

Pihaknya perlu pemetaan kondisi terkini dari masing-masing sekolah, terutama terkait ruang kelas dan rasionya dengan rombel. Idealnya tidak ada lagi kelas siang. Semua ini perlu di data secara aktual, ujarnya.

Lanjut, Wahid diharapkan bahwa perencanaan pendidikan Kota Depok ke depan harus mengintegrasikan pendekatan top-down dan bottom-up, sehingga aspirasi sekolah sebagai garda terdepan pendidikan dapat terakomodasi secara optimal.

“Kami ingin perencanaan ini ketemu di tengah antara dari atas dan dari bawah. Ini penting karena tantangan pendidikan ke depan sangat berat.”

Wahid juga menyoroti capaian skor PISA Indonesia tahun 2022 yang masih berada di peringkat bawah, termasuk dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kondisi tersebut menjadi alarm penting untuk memperkuat kualitas pendidikan di Kota Depok.

“Skor PISA kita masih di papan bawah. Bahkan kita sudah terlewati oleh Vietnam. Ini menjadi tantangan besar kita semua agar Depok tidak terlihat tertinggal,” ungkap Wahid.

Masih Wahid, dalam konteks itu, penguatan literasi dan numerasi menjadi salah satu fokus utama perencanaan pendidikan tahun 2027. Berdasarkan hasil kajian, sekitar 1 dari 4 siswa di Indonesia masih kesulitan memahami bacaan, termasuk di beberapa sekolah di Kota Depok.

“Kita mendapat amanah dari Pak Wali untuk meningkatkan skor literasi dan numerasi. Ini menjadi fokus utama kita. Namun peningkatan ini tidak bisa berdiri sendiri, harus didukung sarana-prasarana, proses pembelajaran, serta kualitas tenaga pendidik,” jelasnya.

Ditambahkannya, melalui Pra Forum Renja ini, Dinas Pendidikan Kota Depok berharap seluruh satuan pendidikan dapat menyampaikan aspirasi, tantangan, serta kebutuhan riil di lapangan sebagai dasar penyusunan program dan kebijakan pendidikan yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di Kota Depok.

Untuk diketahui,
PISA adalah Program Penilaian Siswa Internasional (Programme for International Student Assessment), sebuah studi berskala besar yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk menilai kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun.(*/joh).

Pos terkait