
Ngawi. harianlenteraindonesia.co.id Tradisi Nyadran rutin yang biasa digelar setiap Selasa Kliwon di Pertapan Dusun Biren Desa Kerek, pada bulan ini mengalami perubahan jadwal menjadi Jumat Kliwon. Acara ini berlangsung di aula desa dan dimeriahkan dengan pagelaran Wayang Krucil yang dipimpin Sumadi, Ki Dalang Broto mengambil cerita “Joyo Amijoyo” dari Desa Selopuro. Antusiasme warga terlihat tinggi dalam mengikuti kegiatan sakral ini.
Sebelum pertunjukan wayang dimulai, warga terlebih dahulu menggelar selamatan di pertapan Dusun Biren Desa Kerek. Kepala Desa Kerek, Bayu Onggo Baskoro, menyampaikan bahwa ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi seluruh warga serta agar desa terhindar dari segala marabahaya. Tradisi ini merupakan wujud syukur sekaligus bentuk pelestarian budaya yang telah berlangsung turun-temurun.

Sekretaris Desa Kerek, Wanto, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi dalam acara ini. Ia juga menambahkan bahwa Wayang Krucil dipilih sebagai hiburan karena selain bernilai seni tinggi, biayanya juga terjangkau. “Untuk sehari satu malam pertunjukan, anggaran yang disiapkan sekitar Rp 7.500.000, dan itu masih bisa ditanggung bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Arifin, salah satu Kasun Desa Kerek, mengungkapkan rasa senangnya atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, pertunjukan Wayang Krucil tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga. “Dengan adanya wayang ini, suasana menjadi lebih gayeng dan penuh kegembiraan,” katanya.
Tradisi Nyadran dan Wayang Krucil di Desa Kerek menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat. Dengan adanya dukungan dari pemerintah desa dan partisipasi aktif warga, diharapkan tradisi ini dapat terus berlangsung dan menjadi daya tarik bagi generasi mendatang. Jatmiko






