Magetan, harianlenteraindonesia.co.id
Badai Pandemi Covid 19 yang berlangsung selama lebih dari 2 tahun ini telah mengguncang sendi sendi kehidupan masyarakat. Hanya mereka yang bisa beradaptasi dan berinovasilah yang mampu bertahan dimasa pandemi ini.
Seperti Rohman sosok petani muda asal desa Poncol kecamatan Poncol Kabupaten Magetan, di masa pandemi ini dia belajar dari sosmed (Youtube dan Facebook ) yang berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Dengan semangat pantang menyerah yang patut kita ancungi jempol. Melalui pengembangan dan pengaplikasian sistem drip irrigation (irigasi tetes) di lahan tomat miliknya.

Irigasi tetes adalah sistem pengairan yang menggunakan selang khusus yang dikenal dengan nama selang drip tape, materialnya berupa selang plastik dengan lubang dengan jarak tertentu sehingga air pengairan bisa fokus di tiap tanaman dengan cara menetes sesuai kebutuhan tanaman.
Saat ditemui di kebun miliknya ) Rohman menjelaskan “Saya berawal dari pertanian konvesional seperti kebanyakan petani lainnya dan sering mengalami kegagalan . Didasari hal tersebut selanjutnya dari sosmed (Facebook dan Youtube) saya terus mencari formula yang tepat agar bisa memanfatkan lahan yang saya punya dengan maksimal.” terangnya (Senin, 29/11/2021)
Lebih lanjut Rohman menjelaskan “Sejak pertengahan tahun 2019 sejak adanya Covid 19 saya mengembangkan sistem irigasi drip irrigation di lahan saya ini . Secara awam masyarakat menyebutnya irigasi tetes. Dan ternyata hasilnya lebih maksimal “tuturnya.
“Untuk 500 polibag saya bisa menghasilkan 200 kg tiap 3 hari sekali, dengan harga Rp 3000- 4000/kg ,sedangkan jenis tomat yang saya tanam ini adalah jenis Marvel. Yang memiliki keunggulan daging buah tebal dan rasa yang segar biasanya sebagai bahan jus buah “jelasnya.
Saat ditanya keunggulan sistem drip irrigation ini Rohman menjelaskan “Ternyata sistem ini memiliki banyak keuntungan diantaranya 1.Hasil pertaniannya lebih bagus dan otomatis herganya juga lebih tinggi.
2. Hemat air karena penggunaan air hanya berupa tetesan dan fokus ke tanaman
3. Hemat tenaga, sistem ini diatur secara otomatis dengan menggunakan timer jadi petani tidak perlu lagi menunggu lahan hanya sekedar untuk pengairan
4. Hemat biaya pemeliharaan , tidak diperlukan lagi biaya untuk olah lahan karena media tanam bisa untuk 3-4 kali tanam tanpa merubah apapun di media itu. Selain untuk irigasi sistem ini juga digunakan untuk pemupukan”jelasnya.
Diakhir perbincangan Rohman mengutarakan rencana besarnya “Saya ingin mempunyai green house agar nanti lebih maksimal lagi, karena green house tanaman lebih bagus pertumbuhannya tanpa banyak terganggu oleh musim dan OPT (organisme pengganggu tanaman), oleh karena itu semoga ada pihak terkait yang bisa mewujudkannya “pungkasnya.





