Momen Bunga Desa, Intip Geliat Industri Jamur

Banyuwangi – harianlenteraindonesia.co.id Giat Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) pada akhir bulan Februari ini berlokasi di Desa Wringinagung Kecamatan Gambiran, Rabu (28/2).

Salah satu titik kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani adalah kelompok petani jamur Mekarjaya di Dusun Glowong.

Turut mendampingi Bupati yakni Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kadisperta) Drs. H. Arief Setiawan beserta SKPD dan instansi pemerintah terkait.

Lokasi yang dikunjungi merupakan salah satu sentra produksi jamur tiram, khususnya di wilayah Kecamatan Gambiran.

Kelompok petani jamur Mekarjaya saat ini mewadahi 23 anggota petani jamur

.

Anggota kelompok mayoritas berasal dari beberapa desa di Kecamatan Gambiran yaitu, desa Purwodadi, Wringinagung, dan desa Gambiran serta petani jamur dari Kecamatan Tegalsari.

Geliat usaha jamur tiram ini pada awalnya dirintis oleh Didik Irawan dan Muh. Rohim. Dalam perkembangannya, pada tahun 2016 dibentuklah kelompok petani jamur Mekarjaya yang diketuai Didik Irawan dan Muh. Rohim fokus pada bagian pemasaran.

Jangkauan pemasaran jamur produksi Mekarjaya saat ini adalah Kabupaten sekitar Situbondo, Bondowoso, Jember, hingga Bali. Dengan produksi rata-rata 12-14 ton perbulan dari target kelompok sebesar 20 ton perbulan.

Sebesar 60-70 persen dari produksi tersebut diserap oleh pasar Bali dan saat pasar Bali libur maka alternatif pemasaran dialihkan ke pasar Jember.

Untuk serapan yang lebih stabil adalah pasar Situbondo dan Bondowoso, dimana kelompok rutin mengirim produknya di kisaran 2-3 kwintal setiap harinya.

Kedepan, kelompok berharap mampu mencapai target sebesar 20 ton.

Tantangan terbesar datang dari faktor alam yaitu cuaca yang beberapa tahun belakangan ini tidak menentu dan gelombang El Nino saat ini membawa hawa kering yang berpengaruh terhadap produksi jamur yang membutuhkan iklim lembab.

Tantangan besar selanjutnya adalah dari sisi pemasaran. Porsi terbesar pasar adalah Bali, karena sistemnya jelas dan berkontrak. Namun disisi lain karena faktor budaya yaitu, banyaknya libur perayaan keagamaan maka kelompok membutuhkan solusi saat pasar Bali libur.

Untuk diketahui, jamur tidak dapat disimpan terlalu lama meskipun disimpan dalam pendingin melebihi dua hari karena akan rusak saat dikeluarkan dari pendingin.

Dalam hal ini, Disparta telah berkomunikasi dengan SKPD terkait untuk mengatasi tantangan tersebut, mengenai opsi pasar dan penanganan pasca panen khususnya storage. (*)

Jurnalis Banyuwangi: Aji

Pos terkait