Depok, harianlenteraindonesia.co.id
Yayasan Wangi Bumi Nusantara dan Yayasan Depok Hijau adalah lembaga yang selama ini menjadi mitra Pemda Depok. Lembaga tersebut, memfasilitasi penjualan sampah non organik yang dikumpulkan nasabah di bank-bank sampah. Komunitas Peduli lingkungan Depok, dengan Kegiatan Edukasi Minim Sampah & Pemilahan.
Sekilas Wangi Bumi Nusantara,
Yayasan Bumi Wangi Nusantara lahir pada tanggal 11 Desember 2019 yang diawali dengan hadirnya Forum Komunikasi Peduli Lingkungan,sejak tahun 2015. Sebagai wadah berkumpulnya masyarakat yang peduli terhadap permasalahan lingkungan, khususnya masalah pengelolaan sampah, sehingga menjadi pelopor dalam memberikan solusi-solusinya. Komunitas ini, membawahi sekitar 300 unit Bank Sampah yang ada di Kota Depok.
Pada kesempatan ini, wakil Walikota Depok Imam Budi Hartono, menyambut baik, para pihak yang mendukung kebersamaan dalam penanganan mengurangi sampah di Kota Depok.
Demikian ungkapnya, usai memberikan sambutan pada acara kunjungan WWF international, dalam rangka kolaborasi penanganan sampah di Kota Depok.Acara digelar,bertempat di Gedung Serba Guna Komplek RRI. Sukmajaya, Kamis (26/05/22).
Lanjut Imam, dikatakannya untuk mendukung hal ini diperlukan adanya UPS (Unit Pembuangan Sementara) sebelum sampah masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Cipayung.Bila sampah plastiknya ada 30% maka 70% lagi di pilah dan bila organik bisa di olah jadi pupuk.

“Kebetulan WWF Indonesia tertarik terhadap komunitas sampah di Kota Depok yaitu, Wangi Bumi Nusantara. Mereka akan memberikan pendanaan yang cukup besar.Selama 3 tahun, mereka memberikan anggaran, kalau bisa terserap sebesar 10 miliar.” ujarnya.
Masih di lokasi acara,Tri Agung, manager program smart city mengatakan, pihaknya melakukan kegiatan kerjasama dengan lembaga LSM atau yayasan untuk kebutuhan program mereka.
Kita mengupayakan mengurangi sampah, salah satunya mengurangi sampah plastik. Targetnya 30% sampah plastik yang diusulkan pihak bank sampah.
“Kami mendukung lembaga-lembaga seperti misalkan LSM yang memang punya pengalaman dalam pengelolaan dan pelatihan. Mengelola dalam satu lembaga, tidak semudah mengerjakan membuatnya saja. Bagaimana mengelolanya, jadi ini mengelolanya salah satu kegiatan yang kita lakukan,bahkan bekerja sama dengan star up.”ujarnya.
Terpisah, Tati Latifah salah satu pengurus Bank Sampah dari kecamatan Beji mengatakan,unitnya selama ini mampu mengelola hampir 1 ton setahun yang non organik. Kami masih posisi memilah. Jadi, hasil pilahan diangkut oleh bank sampah induk. Hanya masih beberapa unit saja yang mempunyai kreativitas,tandasnya.






