Dispertapang Banyuwangi dan Dirjen Tanaman Pangan Monitoring Percepatan Tanam dan Peningkatan IP

Banyuwangi, harianlenteraindonesia.co.id 

Salah satu upaya peningkatan produksi padi yang cukup potensial yaitu pengembangan Indeks Pertanaman Padi 400 (IP Padi 400). Melalui cara ini berarti petani dapat panen empat kali dalam setahun pada lahan yang sama.

Keuntungan IP 400 antara lain: (1) mempercepat waktu tanam, (2) teradaptasinya varietas padi berumur genjah spesifik lokasi untuk mempersingkat masa tanam, (3) teknik pengolahan tanah spesifik lokasi yang mampu memperpendek masa tanam, (4) dalam satu tahun empat kali panen, serta (5) tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Banyuwangi Ilham Juanda, SP., M.Tr.P mendampingi Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Dr. Ir. Suwandi, M.Si melakukan monitoring dalam rangka percepatan tanam dan peningkatan IP di beberapa Kelompok Tani dan UPJA yaitu:
1. Poktan Manisa Desa Watukebo Kecamatan Blimbingsari
2. UPJA Tani Makmur Desa Gladag Kecamatan Rogojampi
3. Poktan Monstera Desa Sarimulyo Kecamatan Cluring
4. Poktan Masyarakat Mandiri Gotong Royong Desa Blambangan Kecamatan Muncar, Jumat (29/3/2024).

Ilham Juanda menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan peningkatan IP ini terletak pada tahapan penyiapan bibit padi atau uritan diluar areal tanam. Disinilah peran Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dalam penyiapan bibit sangatlah penting dengan system Culik, dapog atau Tray yang dilakukan 15 hari sebelum panen.

Hal ini, kata Ilham, sangat menunjang dalam proses percepatan tanam. Penggunaan mekanisasi alat dan mesin pertanian baik saat olah tanah, tanam maupun panen juga memangkas waktu lebih banyak jika dibandingkan dengan penggunaan alat alat tradisional.

“Penggunaan Hand tractor untuk olah tanah, Rice Transplanter untuk tanam dan Combine Harvester untuk panen wajib dilakukan untuk menunjang optimalisasi indeks pertanaman ini,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, karena berkurangnya lahan pertanian ketersediaan pangan akan mempengaruhi penyediaan pangan, padahal disisi lain banyak lahan di bawah pohon kelapa yang dapat di manfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan pangan.

“Saat ini banyak petani yang memanfaatkan lahan dibawah tegakan pohon kelapa dengan cara Monoculture (penataan tanaman secara tunggal) dan Polikultur (penataan tanaman dengan cara tumpang sari, tumpang gilir, tanaman sisipan, dan tanaman bergilir),” terangnya.

“Pemanfaatan lahan diantara tanaman kelapa dengan cara Cropping system dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan,” imbuhnya.

Kata Ilham, Poktan masyarakat mandiri gotong royong desa Blambangan, kecamatan Muncar direncanakan akan menerapkan sistem ini yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan pendapatan petani dengan memanfaatkan sistem pompanisasi.

“Hal-hal tersebut diatas merupakan bentuk dari upaya yang dilakukan untuk meningkatkan IP di Kabupaten Banyuwangi dalam menjaga ketahanan pangan,” pungkasnya.

Hadir juga dalam monitoring ini yaitu perwakilan Kodim 0825 Banyuwangi, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL), kelompok tani dan HIPPA.

Penulis: Aji

Pos terkait