Sejarah Pasti Terulang, Mitos Kuat Tapi Bisa Dihentikan

Madiun, harianlenteraindonesis.co.id

Sejarah pasti terulang. Sebagian orang memaknai kalimat tersebut sebagi judul lagu. Namun tak jarang, ‘sejarah terulang’ seolah menjadi mitos yang melekat kuat pada suatu peristiwa.

Sebagai contoh, seorang Lurah gagal menjabat 2 periode berturut-turut di desanya. Artinya, di setiap periode jabatan kepala desa selalu diisi oleh orang yang berbeda. Ini terjadi di salah satu Desa di Kecamatan Jiwan kabupaten Madiun, yakni Desa Ngetrep. Dimana seorang lurah (kepala desa) selalu kalah ketika Pilkades di periode selanjutnya. Sejarah terulang seakan-akan menjadi mitos yang melekat pada momen ini. Terbukti, dari masa ke masa, sejak zaman mbah-mbah dulu, belum ada kepala desa yang berhasil menjabat 2 periode berturut-turut. Bahkan, bisa dikatakan mitos tersebut masih berlaku hingga saat ini, tahun 2021.

Gagalnya Lurah Desa Ngetrep untuk memenangkan jabatan di periode selanjutnya ini seolah menjadi ‘cap’ yang kuat. Tak hanya kondang dikalangan masyarakat setempat. Mitos ‘sejarah terulang’ di Desa ini pun bahkan tak asing dikalangan masyarakat luar desa.

Desa lain yang memiliki mitos sama adalah desa Bader Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Data yang berhasil dihimpun awak media, desa Bader selalu berganti pemimpin sepanjang periodenya. Bahkan, hal itu telah berlangsung sejak terbentuknya pemerintahan desa tersebut, yakni tahun 1800 an yang lalu.

Pecah, bak telur bercangkang keras, pada akhirnya pecah juga. Ratusan tahun mitos ‘sejarah terulang’ telah berhasil dihentikan oleh incumbent yang menjabat pada periode 2015-2021. Dia adalah Sri Purwanto, ST. Seorang putra daerah yang pertama kali dalam sejarah berhasil menjabat sebagai kepala desa 2 periode berturut-turut. Hal itu diketahui ketika dirinya dipastikan memenangkan kontestasi Pilkades 2021, Senin 20 Desember.

Dikonfirmasi di kediamannya, Sri sedikit bercerita tentang sejarah pemimpin di Desanya tersebut. Mulai dari terbaginya wilayah yang dikenal dengan istilah _lor kali_ dan _kidul kali_, bersatunya kedua wilayah tersebut hingga saat ini. Yang disayangkan, rentetan nama pemimpin desa bader sebelum tahun 70 an hanyalah berupa nama. Terang saja, sebelum tahun tersebut, teknologi potret belum banyak diketahui. Keberadaannya pun sangat langka sehingga sulit memliki dokumentasi berupa gambar pemimpin pada masa itu.

Dalam sharing singkat di kediamannya, Sri sempat berangan-angan bakal melengkapi nama-nama tanpa wajah dengan sebuah gambar untuk dijadikan dokumentasi di kantor Desa Bader. Bukan dengan kamera, melainkan dengan sketsa yang dilukis oleh seseorang yang ahli dibidangnya.

“Meskipun nanti hanya berupa sketsa, minimal dapat menggambarkan karakter pemimpin tersebut, bisa diabadikan sehingga tidak lenyap dimakan oleh zaman,” tutur Kades Bader 2 periode, Sri Purwanto.

Pos terkait