CIMAHI –harianlenteraindonesia.co.id Keterbatasan warga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pemulasaran jenazah menjadi perhatian Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko. Ia menilai, kemampuan mengurus jenazah perlu diperluas di tengah masyarakat agar pelayanan terhadap warga yang meninggal dunia tidak hanya bergantung pada segelintir orang.
Persoalan tersebut disampaikan Wahyu saat menghadiri pelatihan pemulasaran jenazah yang diselenggarakan Forum Ormas Cimahi bersama Persikindo, Garda Nasional (GGN), dan Yayasan Baitul Mukhlishin di D’ Kores, Minggu (12/10/2026).
Wahyu mengatakan, berdasarkan pengalamannya di lingkungan tempat tinggalnya di Kelurahan Leuwigajah, masih banyak warga yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai untuk mengurus jenazah sesuai tuntunan syariat Islam.
“Ketika ada tetangga yang meninggal dunia, ternyata tidak banyak warga yang mau dan mampu mengurus jenazah. Akhirnya, harus memanggil orang yang itu-itu saja,” ungkap Wahyu.
Menurutnya, keterbatasan tenaga terlatih dapat menjadi persoalan ketika dua warga meninggal dunia dalam waktu bersamaan. Dalam situasi seperti itu, ketersediaan orang yang memahami tata cara pemulasaran jenazah menjadi penting agar kebutuhan keluarga yang sedang berduka tetap dapat tertangani dengan baik.
Wahyu menilai, pelatihan pemulasaran jenazah dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kesiapsiagaan sosial masyarakat. Semakin banyak warga yang memahami tata cara pengurusan jenazah, semakin besar pula peluang masyarakat memberikan bantuan tanpa harus selalu bergantung pada orang-orang tertentu.
Ia mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan oleh Forum Ormas dan LSM Kota Cimahi bersama sejumlah organisasi dan yayasan tersebut. Kegiatan itu disebut telah memasuki angkatan kelima, yang menunjukkan adanya upaya berkelanjutan untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam bidang pemulasaran jenazah.
Bagi Wahyu, pengurusan jenazah tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga mencerminkan kepedulian, pengabdian, dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. Karena itu, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Keterlibatan kaum ibu dalam pelatihan tersebut juga dinilai penting untuk memperluas partisipasi masyarakat. Dengan semakin banyak warga yang memiliki keterampilan, dukungan terhadap keluarga yang berduka diharapkan dapat diberikan secara lebih baik sesuai kebutuhan dan ketentuan agama.
Wahyu turut mendorong kolaborasi pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan masyarakat agar pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak wilayah di Kota Cimahi.
Selain memperluas jumlah peserta, keberlanjutan pelatihan juga perlu ditunjang materi yang sesuai tuntunan agama, pendampingan praktik, serta koordinasi dengan pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam pemulasaran jenazah.
Melalui peningkatan keterampilan dan penguatan semangat gotong royong, masyarakat diharapkan semakin siap membantu ketika ada warga yang meninggal dunia. Dengan demikian, pemulasaran jenazah tidak hanya menjadi tanggung jawab segelintir orang, tetapi dapat ditopang oleh lebih banyak warga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai.






