GRESIK- harianlenteraindonesia.co.id Sebuah buku berjudul Jejak Islam dalam Tata Ruang Kota Gresik, karya Muhammad Basiq El Fuadi, S. Hum., M.A (Litbang Dewan Kebudayaan Gresik), baru saja diluncurkan dan menarik perhatian kalangan akademisi maupun masyarakat luas.
Buku ini mengupas perjalanan/kronik Kota Gresik sebagai pelabuhan penting pada pesisir pantai utara jawa pada masa abad 14-16 M, serta peranannya sebagai awal proses penyebaran Islamisasi dalam membentuk wajah kota Gresik, mulai dari arsitektur, pemukiman, hingga dinamika sosial budaya masyarakat.
Buku ini mengulas secara mendalam bagaimana jejak Islam telah membentuk wajah Kota Gresik, tidak hanya dari sisi spiritualitas, tetapi juga dalam tata ruang, struktur sosial, warisan cagar budaya dan kearifan lokal.
Penulis buku menyoroti bagaimana jejak peradaban Islam tidak hanya tampak pada bangunan masjid kuno, tetapi juga tercermin dalam pola tata ruang kota yang berakar pada tradisi lokal.
Melalui pendekatan sejarah, buku ini menyajikan analisis detail tentang interaksi pedagang, penguasa, Ulama (wali) dan masyarakat setempat dalam membangun peradaban Islam di Nusantara, khususnya di Gresik.
Melalui buku ini, Harapannya dapat menghidupkan kembali peran dan kontribusi Gresik pada masa lampau, untuk merefleksikan sesuai tantangan dan kebutuhannya dalam mengelola tata ruang kota Gresik membangun kawasan Gresik Kota Lama (Bandar Grisse) sebagai usaha untuk memaksimalkan potensi dan warisan cagar budaya agar bisa dijadikan Kota Kreatif (Heitage City) berbasis sosial dan budaya.
Buku ini berusaha menunjukkan bahwa tata ruang kota Gresik tidak lahir secara kebetulan, melainkan dibentuk oleh nilai-nilai Islam yang hidup di tengah masyarakat sejak berabad-abad lalu.
Selain menjadi sumber pengetahuan, buku ini juga diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi perencana kota, peneliti sejarah, hingga generasi muda yang ingin memahami akar budaya kotanya.
Kehadiran buku ini menambah deretan literatur tentang sejarah Islam di Indonesia, sekaligus memperkaya diskursus mengenai hubungan agama, ruang, dan identitas kota.
Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani, memberikan apresiasi tinggi terhadap karya ini. Menurutnya, buku ini berhasil menghadirkan kembali semangat Gresik sebagai kota wali. “Buku ini menghidupkan kembali ruh kota Gresik sebagai kota santri dan kota wali. Banyak kisah yang sering kami dengar dari orang tua ternyata tersusun rapi dan ilmiah di sini,” ungkapnya.
Wakil Bupati Gresik, dr. H. Asluchul Alif, menilai buku ini penting sebagai literasi kebudayaan. “Gresik bukan hanya kota industri, tetapi juga kota wali. Buku ini mengajak kita memandang tata ruang kota sebagai warisan budaya, kearifan, nilai-nilai, dan pengetahuan,” ujarnya.
Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menegaskan: “Kota yang baik bukan yang cepat tumbuh, tapi juga tahu dari mana akar ia berasal dan ke mana arah pembangunan ditempuh.”
Peluncuran buku Jejak Islam dalam Tata Ruang Kota Gresik diharapkan semakin membuka ruang dialog tentang bagaimana warisan peradaban Islam dapat terus dihidupkan dalam tata ruang perkotaan modern tanpa kehilangan nilai-nilai sejarahnya.
(TEAM MLI GRESIK).






