Tantangan Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Dinkes Banyuwangi Mengadakan Pertemuan Penguatan Dukungan Mitra Potensial

  • Whatsapp

 

Banyuwangi –harianlentetaindonesia.co.id  Beberapa tantangan yang dihadapi Pemkab terkait angka kematian ibu dan bayi maka Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi mengadakan kegiatan penguatan dukungan mitra potensial dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), dan dihadiri oleh Organisasi Masyarakat, Organisasi keagamaan, beberapa media online, cetak, dan radio bertempat di El Royale Hotel dan Resort, Rabu (14/5/2024).

Plt. Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menyampaikan beberapa pesan, salah satunya dengan menggerakkan partisipasi publik di semua sektor untuk berkolaborasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang sehat baik individu ataupun kelompok.

“Seluruh sektor untuk bersama menguatkan sinergi untuk pembudayaan dan implementasi GERMAS di masing-masing organisasi ataupun instansi,” kata Amir dihadapkan peserta.

Dalam arahannya, kata dia, beberapa indikator masih perlu menjadi atensi. Hal ini harus ditingkatkan guna mencegah kejadian yang tidak diharapkan. Seperti tingkat 10 besar penyakit yang sudah mulai tergeser dan penyakit tidak menular menjadi ancaman besar untuk para generasi muda.

Amir menerangkan, Banyuwangi di tahun 2024 kemarin itu kasus kematian ibu ada 28 kasus, sama dengan di tahun 2023, jadi tidak menurun. Terus yang di kematian bayi itu ada 171 kasus, sudah menurun dari tahun sebelumnya 179 kasus, tapi masih relatif tinggi. Jadi di Jawa Timur kita peringkat 2 kasusnya paling tinggi.

“Beberapa tantangan yang lain antara lain di paru, di paru kita itu tinggi, karena memang kita dorong supaya penemuan kasusnya itu tinggi. Kalau penemuan kasusnya tinggi maka segera mendapatkan pengobatan dan pencegahan. Ini yang antara lain kita sampaikan kepada seluruh organisasi, dan yang ketiga, yang menjadi trend saat ini kasus penyakit tidak menular seperti jantung, struk, kanker, diabetes, hipertensi relatif meningkat. Maka yang seperti ini yang menjadi kunci adalah di pencegahannya, maka kita sampaikan memastikan bahwa asupan nutrisi kepada anak-anak kita cukup, remaja kita cukup, aktifitas fisiknya cukup karena kita sedang mempersiapkan Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.

“Jadi anak-anak yang saat ini usianya 10 tahun, 20 tahun lagi menjadi 30 tahun dan itu menjadi usia produktif, di 2045 usia produktif Indonesia itu 68 sampai dengan 70 persen, karena itu kita persiapkan dengan baik, SDM nya cukup, SDM berkualitas, sehat, dan cerdas, maka kita bisa melompat menjadi Indonesia Maju,” urainya.

Amir menambahkan, penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi ada 3 hal, dan ini yang terus kita dorong, kita kuatkan dan termasuk kita mohonkan peran serta dari seluruh lintas sektor ini.
Kenapa kematian ibu dan bayi tinggi? Karena 3 terlambat, yang pertama terlambat mengambil keputusan, jadi pada saat ibu hamil resiko tinggi terus kemudian persalinan ada kegawatdaruratan yang seperti ini harus segera dideteksi dan dirujuk, tidak boleh kemudian ditangani di bidan peran mandiri atau di puskesmas harus dirujuk ke rumah sakit dan ditangani oleh dokter spesialis, yang kedua biasanya ada keterlambatan dalam rujukan, maka kita mohon ada mobil siaga yang siap sewaktu-waktu untuk membawa ke rumah sakit karena kalau terlambat ini soal waktu, kalau pendarahan dan sebagainya, dan yang ketiga keterlambatan dalam penanganan, beberapa kasus ada keterlambatan penanganan maka kita pastikan teman-teman dokter spesialis ada tim di rumah sakit yang dibuatkan. Yang seperti ini kita sudah ada inovasi puskesmas.

“Saat ini kita juga melaksanakan Permata Hati (persalinan, aman, sehat, terlindungi) jadi persalinan tidak boleh ditolong oleh bidan saja tapi harus ditolong dengan 2 bidan dan 1 dokter atau 1 perawat, 1 bidan dan 1 dokter,” kata Amir.

Masalah TBC menjadi atensi di tingkat nasional, mangkanya kita sampaikan tadi juga. Saat ini Banyuwangi ada lebih dari 3000 yang terkonfirmasi, ada lebih dari 6000 yang sespek tapi memang kita dorong supaya penemuan kasusnya itu lebih cepat supaya segera dapat ditangani, penanganan ini dengan pengobatan selama 6 bulan tidak boleh putus, karena kalau putus bisa resisten, kalau sudah resisten maka pengobatannya menjadi semakin panjang sampai 2 tahun, maka ini lebih beresiko lagi, makanya kita mohon support dari seluruh masyarakat itu terkait dengan pengobatan, jadi memastikan kalau dia ikut di program dot (program 6 bulan) tidak boleh putus, ada yang mengingatkan, ada yang mengawasi. Yang di pencegahan, kita pastikan bahwa rumahnya sehat karena TB paru ini bukan penyakit menurun, tapi penyakit menular.
Kalau ada anggota keluarga yang sakit berisiko pada keluarga yang lain tertular juga.
Maka yang seperti ini pastikan rumahnya sehat, ada cahaya matahari yang masuk, ada sirkulasi udara yang cukup, yang seperti ini supaya oksigen dirumahnya sehat dan bisa meminimalisir berkembangnya kuman.

Untuk vaksin kita masih mengikuti program dari pemerintah pusat saat ini terus dinegosiasikan untuk ujicoba vaksin. Vaksin ini menjadi penting karena pengalaman selama ini penyakit-penyakit menular itu dapat terkendali karena vaksin. TB ini sedang sudah ada vaksinnya sedang di ujicobakan karena sesuai dengan karakteristik di Indonesia harapannya bisa nanti ditemukan vaksin yang sudah vik dan kemudian itu diwajibkan kepada seluruh masyarakat terutama di remaja kita.

Selain itu, kegiatan ini diisi dengan beberapa materi mulai dari Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Pengelolaan sampah, DBD, PTM (Hipertensi) dan Posyandu ILP.

Dilanjutkan dengan diskusi masing-masing kelompok untuk bersama mendiskusikan bagaimana strategi yang dapat diupayakan dengan memberikan potensi-potensi dari masing-masing organisasi ataupun instansi untuk bersama menyusun rencana tindak lanjut dari inovasi yang telah diberikan berdasarkan hasil diskusi tersebut.

Penulis: Aji

Pos terkait