Jejak Sejarah Makam Kembang Sore Desa Pacalan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan

  • Whatsapp

Magetan, harianlenteraindonesia.co.id

Desa Pacalan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan salah satu desa yang memiliki sejarah yang istimewa. Mengapa bisa dikatakan istimewa karena di Kabupaten Magetan terdapat 3 desa yang menurut sejarah dahulu adalah tanah perdikan dari kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta).

Menurut sejarah di Magetan ketiga desa yang dulunya tanah perdikan adalah Pacalan, Giripurno dan Bayemtaman. Ketiga daerah tersebut memiliki cerita dan nilai sejarah masing masing yang harus ditularkan kepada generasi muda bahwa di Magetan ada wilayah yang pada jamannya memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki desa lainnya. Desa Pacalan pada waktu itu merupakan tanah perdikan sehingga dulu tidak dikenai pajak oleh pemerintah Belanda. Boleh dikatakan jaman penjajahan Belanda desa Pacalan bukan merupakan tanah jajahan Belanda.

Agus Suharto, S.T M.T Kepala desa Pacalan kepada Medialenteraindonesia.co.id (Selasa, 13/7/2021) menjelaskan “Di makam Kembang Sore ini bersemayam Bupati Magetan ke 2 dan ke 3.Beliau adalah Kanjeng Kyai Adipati (K.Ky.Adp) Purwodiningrat Bupati Magetan ke 2 dan Raden Tumenggung Sosrodipuro Bupati Magetan ke 3. Selain itu juga bersemayam Kyai Nolodipo yang terkenal dengan gelar KI Ageng Kembang Sore. Ki Ageng Kembang Sore ini adalah guru dari kedua Bupati Magetan tersebut “jelasnya.

“Ki Ageng Kembang Sore ini adalah seorang ulama yang bernama asli Kyai Nolodipo. Nolodipo adalah pemimpin prajurit
Kerajaan Mataram yang pada tahun 1628 terlibat perang dengan pasukan
Belanda. Dan merupakan peyebar agama islam di wilayah brang wetan. Gelar Ki Ageng Kembang Sore ini menurut cerita nenek moyang berkat karomah /kesakitan beliau jika pagi menaman sore harinya pasti tumbuh bunga (kembang) “jelas kepala Desa Pacalan ini.

Bupati K Ky Adp Purwodiningrat ini dulu merupakan Bupati Magetan ke 2. Yang merupakan Mertua Hamengkubuwono II. Sedangkan Eyang Putri Purwodiningrat dimakamkan di pesarean Pakuncen Nganjuk juga merupakan Bupati Kertosono Nganjuk .

Dari Garwo selir K. Ky. Adp. Purwodiningrat ini juga menurunkan Bupati Bupati sepuh di wilayah eks Karesidenan Madiun. Bupati Ngawi, Madiun, Ponorogo,Nganjuk dan Trenggalek .

Agus Suharto, S.T M.T menambahkan “Dan yang perlu kita ketahui bersama Pangeran Diponegoro adalah Cucu buyut dari Bupati Magetan ke 2 K. Ky. Adp. Purwodiningrat .
Makam di Kembang Sore ini susunan ,denahnya mirip dengan pemakaman Raja Raja Yogyakarta di Imogiri. Di areal pemakaman Kembang Sore ini terdapat 3 areal wilayah. Di puncak pemakaman bersemayam Ki Ageng Kembang Sore beserta kedua Murid Beliau yang menjadi Bupati Magetan ke 2 dan ke 3. Di trap ke 2 merupakan garis keturunan lapis ke 2 dan di trap ke 3 merupakan garis keturunan ke 3.Di Makam Kembang Sore ini juga terdapat makam Tokoh pendiri Tanah perdikan Pacalan Beliau adalah R.T Cokrodirono. “jelasnya.

Kompleks pemakaman Kembang Sore dulu ini dibangun oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dan sekarang mulai ditata kembali oleh Pemkab Magetan melalui dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta dinas Perkim Magetan dengan membangun pagar dan pintu gerbang di komplek Kembang Sore.

Semoga dengan perhatian yang lebih intens lagi komplek Pemakaman Kembang Sore ini akan lestari dan bisa menjadi tempat bagi generasi muda khususnya di wilayah Magetan untuk menambah wawasan sejarahnya. Video kegiatan ini bisa di klik di di http://www.youtube.com/c/BeniSetyawanMagetan.

Pos terkait