Magetan, harianlenteraindonesia.co.id
Pengerjaan proyek dimulai dari Bendung Dam Jati yang terletak di Desa Gorang Gareng Kecamatan Nguntoronadi melintas sepanjang 4 Kabupaten Magetan,Kabupaten Madiun,Kota Madiun dan berakhir di Kecamatan Gerih Kabupaten Ngawi.
Pengerjaan proyek Bendung Dam Jati sendiri meliputi peninggian mercu, Pengadaan pintu elektrikal, perbaikan lantai apron hulu ,perbaikan kolam olak, perbaikan dinding hilir bendung sebelah kanan, Perbaikan lereng bronjong hilir sebelah kiri, penyesuaian elevasi pelimpah samping,galian sedimen penguras kantong lumpur, galian sedimen kantong lumpur serta rehab 24 bangunan di saluran primer.
Proyek Kementerian PUPR RI melalui satker SNVT Jaringan Pemanfaatan Air Bengawan Solo melaksanakan kegiatan proyek reahabilitasi jaringan irigasi DI SIM di Kabupaten Madiun senilai 116 Milyar
Mega proyek senilai 116 milyar dikerjakan PT Haka KSO Hidup Indah Anugerah dan sekarang masih dalam persiapan pengerjaan.Humas PT Haka KSO Hidup Indah Anugerah mengatakan saat ini proyek masih dalam masa persiapan.

“Kita masih dalam persiapan dan berkunjung ke desa/kecamatan yang dilewati proyek,”ujar Wawan.
Dijelaskan nantinya selain tenaga tehnis akan memberdayakan tenaga kerja dari desa desa yang dilalui proyek tersebut.
Rehabilitasi jaringan irigasi DI SIM ini diproyeksikan untuk mengairi sawah seluas 10.415 HA yang terletak disepanjang sungai Madiun di empat Kabupaten.Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produksi padi di propinsi Jatim khususnya di aliran DI SIM.
Suplesi DI SIM didapat dari aliran sungai Madiun dibendung di Bendung Jati yang terletak di Wilayah Kecamatan Nguntoronadi.
Bendung karet Dam Jati saat ini dalam kondisi rusak dan akan diganti dengan peninggian bangunan mercu yang berfungsi suplesi mengairi sawah di sepanjang DI SIM.
Dengan adanya peninggian bendungan mercu dan rencana penambahan suplesi debit dari sungai Manding akan dibendung di Gandong wilayah Desa Waduk Kecamatan Takeran.
Fungsinya untuk pemenuhan air bagi masyarakat Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) yang menginginkan kembali lahan pertanian produktif. (Jurnalis Beni Setyawan)






