JEPARA, harianlenteraindonesia.co.id
Masyarakat mulai resah dengan pernyataan nakes dalam menentukan positif covid-19 bagi pasien baik ODP maupun PDP. Untuk memastikan positif covid atau negatif ada beberapa metode, namun sering kali metode tersebut tidak diikuti. Banyak kejadian yang menyalahi SOP covid-19, hal ini juga dialami oleh pasien yang dinyatakan positif sebelum hasil swab muncul. Apa yang menjadi dasar untuk menyatakan terpapar atau tidak jika tidak ada bukti hasil swab??
Hari Rabu 1 Juli 2020 ada satu pasien seorang wanita meninggal dunia di RSUK, seorang ibu alamat ujung batu yang punya riwayat DM dan sudah lama. Awalnya pasien dibawa ke RSI dan rapid tes, hasilnya reaktif, akan tetapi pihak keluarga meyakini reaktif blm tentu positif dan harus melalui swab.
Lalu dirujuk ke RSUK, malam hari sekitar pukul 19.10 keluarga pasien mendapat kabar kalau pasien telah meninggal dunia dan dinyatakan terpapar covid-19. Sontak pihak keluarga kaget dan bertanya, jelas keluarga pasien bertanya tanya karena pasien dirawat belum genap satu hari bahkan hasil swab masih harus menunggu berhari hari lah kok sudah dinyatakan terpapar. Pemulasaran jenazahpun rencana akan memakai protokol covid.

Salahkah jika masyarakat menduga ada kepentingan tersembunyi dibalik pernyataan positif atas pasien dan terkesan dipaksakan. Jika bukan paksaan lalu sebutan apa yang lebih pantas, pernyataan salah seorang NGO yang tak mau namanya disebut. Hasil swab belum jadi, lalu apa bukti untuk menyatakan bahwa pasien positif covid-19?? Ini aneh tandas salah satu anggota sebuah ormas Jepara.
Ketua DPRD Imam Gazali yang kami konfirmasi menyampaikan bahwa APBD menganggarkan dana begitu besar untuk penanganan covid di Jepara yakni 203M, fantasis. Namun sayangnya DPRD tidak punya kewenangan untuk mengawasi secara rinci dan hanya pengawasan secara global sesuai dengan SK mentri Kesehatan.

Tentang berapa standar anggaran per orangpun tidak dilaporkan secara rinci kepada DPRD termasuk biaya pemakaman. Sangatlah lemah pengawasan penggunaaan anggaran covid-19 dan berpotensi menjadi dugaan ajang bisnis oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dana yang begitu besar menjadi perhatian bagi banyak pihak. Atau mungkinkan anggaran covid akan menjadi bolu yang siap dibagi bagi?? (Jurnalis John)






