Gubernur Jawa Timur Cek Jembatan Ambrol Karena Banjir Di Magetan

Magetan, harianlenteraindonesia.co.id

Banjir yang melanda beberapa wilayah di Magetan serta menimbulkan kerusakan infrastruktur dan pemukiman warga mendapat perhatian dari pemerintah Propinsi Jawa Timur. Hal ini ditandai dengan Kunjungan Gubernur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. yang mengecek secara langsung kondisi di Magetan. Kamis (18/3/2021).

Rangkaian kegiatan ini diawali dari pengecekan Jembatan Bogem -Kentangan Kecamatan Sukomoro yang putus pertama kali selanjutnya di Jembatan Ngunut no 61 Kecamatan Kawedanan dan diakhiri mengecek rumah warga terdampak banjir yang ada di desa Pojok kecamatan Kawedanan , sebagai informasi tambahan didesa pojok juga terdapat jembatan Gantung desa yang juga putus karena banjir.

Saat di jembatan Ngunut Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur mengatakan ” Musim hujan dengan intensitas tinggi yang melanda diseluruh Jawa Timur banyak yang mengakibatkan banjir, Sebagai langkah awal kita akan memerlukan normalisasi aliran sungai,Salah satu penyebabnya adanya sampah barongan (rumpun bambu) yqng menyebabkan tanggul jebol, selain itu normalisasi akan diawali dengan pembuatan bronjongan dilanjutkan dengan pembangunan plengsengan. Banjir juga terjadi di kabupaten kota, yang menyebabkan jembatan dan tanggul jebol, selain itu banyak pemukiman yang terdampak banjir. Selain Magetan juga terjadi banjir bandang di Jombang, Probolinggo dan Gempol.”jelasnys

Lebih lanjut Gubernur Jawa Timur ini juga menambahkan “Jembatan ini sangat penting sebagai konektifitas antar kecamatan dan untuk mendukung laju perekonomian ,Untuk target waktu pembangunan bronjong bisa langsung hari ini, Tapi untuk jembatan Ngunut ini perlu menunggu hasil kajian ilmiah tentang aspek aspek konstruksinya “paparnya.

Setelah mengunjungi 2 lokasi jembatan yang putus selanjutnya Gubernur beserta rombongan mengunjungi warga yang terdampak banjir di desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.

Wartini warga desa Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan yang rumahnya rusak kepada media Harian Lentera Indonesia mengatakan ” Kami berharap agar rumah kami yang rusak ini bisa segera diperbaiki oleh pemerintah .Seluruh harta benda kami hancur akibat banjir ini, 4 kambing kami sebagai tabungan juga hilang dibawa banjir. Selain itu gabah hasil sawah kami juga hilang terkena banjir ini. Karena datangnya banjir secara tiba tiba kami tidak sempat membawa apa apa kecuali baju yang menempel saja mas. Dan ini adalah banjir terparah selama hidup saya “paparnya.

Banjir bandang juga pernah terjadi pada tahun 1982.Pada kurun waktu tahun 1982 alih fungsi lahan perkembangan areal pemukiman penduduk, ekosistem alam pun mungkin juga tdk separah sekarang. Tapi pernah terjadi banjir. Jadi fenomena banjir desa pojok selain faktor Geografis daerah aliran sungai(DAS) juga faktor intensitas curah hujan yang tinggi dan merata dlm durasi waktu yg lama dikawasan Magetan.Selain penanganan yang parsial juga diperlukan kebijakan agar intensitas curah hujan yang tinggi bisa di modifikasi dengan kebijakan “water harvesting ” dimana ada kebijakan tentang tata kelola air, jumlah luasan lahan resapan air hujan harus seimbang dengan pembangunan yang ada. Teknologi biopori, embung dan manajement air harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. Agar kejadian langka di Magetan ini tidak menjadi kejadian yang berulang. Video kegiatan ini bisa di klik di di http://www.youtube.com/c/BeniSetyawanMagetan (Jurnalis :Beni Setyawan) .

Pos terkait