Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Ini Pemaparan Kadinkes Banyuwangi 

Banyuwangi, harianlenteraindonesia.co.id

Bertujuan untuk memperkuat lintas sektor, organisasi masyarakat dan mitra potensial dalam menggerakkan masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi menggelar kegiatan penguatan dukungan GERMAS yang bertempat di Aula Oesman Rasyad Dinkes, Rabu (6/5/2026).

Pertemuan kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai organisasi dan lembaga, diantaranya, TP PKK, Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Fatayat, Muslimat, Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, LDII, Walubi, organisasi keagamaan lintas agama, perguruan tinggi, hingga media massa lokal.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. Amir menerangkan, di tahun 2026 ini kapasitas fiskal kita sangat terbatas, sehingga memang pesan sesuai dengan Takline ‘Banyuwangi Tandang Bareng’ ini terus akan kita upayakan, kita wujudkan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Hari ini seluruh organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan, organisasi wanita, kita undang untuk kita sampaikan beberapa tantangan. Kita mohonkan dukungan menggerakkan seluruh komponen jejaring dibawah masing-masing untuk membantu program kesehatan,” kata Amir.

“Tantangan pertama, yang menjadi prioritas adalah penyakit metabolik yang saat ini meningkat signifikan. Tidak hanya jumlahnya, tapi juga meningkat kasus yang usianya lebih muda,” ungkapnya.

Amir menyebut, penyakit jantung, setruk, gagal ginjal, ini meningkat. Persis seiring dengan hasil cek kesehatan gratis yang kita laksanakan selama tahun 2025, 20 persen penduduk Banyuwangi itu mengalami hipertensi.

“Hipertensi ini menjadi pintu masuk penyakit-penyakit yang tadi saya sebutkan. Seperti struk, jantung, gagal ginjal. Ini diperkirakan akan menjadi lonjakan kalau tidak kita tangani, maka kita hadirkan seluruh pemangku kepentingan,” terangnya.

Untuk bisa mengerem ini, kata Amir, ngeremnya cukup simpel, yakni memastikan asupan nutrisi berkualitas, makan dengan cukup berkualitas, kurangi gula, garam, lemak dan aktifitas fisik yang cukup 150 menit setiap Minggu atau 30 menit tiap hari.

“Itu yang pertama kita pesankan. Yang kedua menjadi tantangan di kita yaitu kematian ibu dan bayi yang saat ini sudah menurun tetapi relatif tinggi di Jawa Timur,” tutur Amir.

Lanjut Amir, di tahun 2024, ada 28 kasus kematian ibu, sudah menurun di tahun 2025 dengan 19 kasus. Kejadian yang seharusnya bisa kita cegah, ini persis juga seiring dengan cek kesehatan gratis yang kita laksanakan ternyata anemi remaja putri kita itu tinggi, jadi kekurangan hemoglobin dalam darah yang terjadi pada remaja putri kita itu 25,4 persen.

“Kalau ini kita tidak di rem, maka ini akan terus menjadi siklus, dia menjadi calon pengantin yang anemi, ibu hamil yang beresiko tinggi, dan kemudian lahir persalinan yang beresiko kematian dan lahir anak yang stunting,” tegasnya.

“Inilah problem yang sedang kita hadapi saat ini. Disamping itu kita juga pesankan kuritas nasional Adi baru yang saat ini terus kita upayakan untuk kita cegah, kita tangani,” imbuhnya.

“Banyuwangi ada 3169 kasus, ada inisiasi yang belum tercapai, ini kita share supaya semua bisa berperan aktif memberikan dukungan bagaimana mengangkat beban ini bersama. Tidak ada beban yang berat kalau kita tanggung bersama,” pungkasnya.

Penulis: Aji

Pos terkait