Banyuwangi, harianlenteraindonesia.co.id
Koleksi tablet tanah liat stupika materai di Museum Blambangan Banyuwangi isinya itu mantra Buddha. Uniknya, mantra ini berbahasa Sansekerta tapi beraksara Jawa kuno.
Tablet tanah liat ditemukan saat dalam penelitian dan ekskavasi pusat, penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1976 di Situs Gumuk Klinting, Desa Paluadem, Kecamatan Muncar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Mohammad Yanuarto Bramuda melalui Bayu Ari Wibowo, Arkeolog Museum Blambangan (Disbudpar) menjelaskan, ukiran pada tablet tanah liat stupika materai berusia 1222 tahun lalu atau abad ke 9 dan 10 itu fungsinya adalah untuk pemujaan kepada Sang Buddha. Tetapi, ternyata yang di Banyuwangi ini selain digunakan untuk pemujaan juga digunakan sebagai bekal kubur.
“Jadi, bekal kubur itu di ikutsertakan ketika mayat dikubur. Tablet tanah liat ini berasal dari abad ke 9 (tahun 801 – 900 M) dan abad ke 10 (tahun 901 – 1000 M),” terangnya.
Pada saat itu, lanjut Bayu, meskipun mereka beragama Hindu dan Buddha tetapi mereka (masyarakat Blambangan) masih menjalankan tradisi megalitik atau penguburan didalam tanah, tidak dikremasi atau di Aben.
“Jadi, jelas bahasanya bahasa sansekerta dan aksara Jawa kuno,” kata Bayu.
“Kemudian ada aksara lagi, berupa Genta. Genta perunggu ini ternyata di permukaannya terdapat aksara Jawa kuno, kalau dibaca Sangbrah, itu artinya adalah Sang Brahmana,” ujarnya.
Lanjut Bayu, dari sini kita bisa menegaskan lagi secara arkeologi, sebenarnya bahasa dan aksara yang berkembang di Banyuwangi ketika itu adalah bahasa Jawa kuno dan aksara Jawa kuno.
Kemudian, penduduk asli Blambangan itu orang Jawa, kenapa sekarang dinamakan Using?, Using itu secara arkeologis tidak bisa dipertanggungjawabkan buktinya,” terangnya lagi.
Sejak kapan Using itu ada?, satu-satunya bukti bahwa eksistensi masyarakat asli Blambangan ada sejak kapan?, kalau kita merujuk pada temuan arkeologi yang ada di Kendenglembu, Kecamatan Glenmore, disana ada Artefaktual yang berasal dari budaya Neolitik.
Budaya Neolitik itu dikembangkan oleh masyarakat penutur bahasa Austronesia. Mereka berdasarkan penelitian teman-teman dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Merupakan nenek moyangnya orang Jawa, berarti orang Jawa.
Dan kemudian kalau kita lihat dari contohnya orang Belanda, ada dua penyebutan yang mereka gunakan untuk menyebut penduduk asli Blambangan, yang pertama adalah orang Blambangan, yang kedua adalah orang Jawa. Jadi bukan orang Using,” katanya.
“Sebenarnya menyebut tentang bahasa Banyuwangi, tetapi bukan bahasa Using. Nah, Using itu kalau Banyuwangi, bahasa Banyuwangi berarti dialek, bukan bahasa,” pungkas Bayu.
Penulis: Aji





