Tiga Asosiasi di Malang Serukan Beli Produk Lokal Gula

LENTERA INDONESIA Di antaranya, Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang, dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Malang.

Dikatakan ketua Apkrindo Malang, Indra Setiyadi, bahwa gerakan ini adalah murni bentuk keprihatinan terhadap masalah petani tebu yang gulanya masih menumpuk dan tidak terjual ribuan ton di pabrik gula. Karena, kata Indra, harganya kalah bersaing dengan gula impor yang harganya relatif rendah dibanding gula lokal.

“Kita berharap masyarakat bisa mengikuti Asosiasi-Asosiasi ini untuk menggunakan gula lokal. Walaupun harga mungkin lebih mahal sedikit. Sehingga untuk saudara-saudara kita petani tebu di Malang Raya ini tidak terpuruk,” katanya, saat diwawancarai Hari Jum’at ( 29/1), di Rumah Makan Kertanegara, di Jl. Kertanegara No. 1, Kota Malang.

Pemilik RM Kertanegara ini juga mengungkapkan, pihaknya tidak mengikuti permainan gula. Ia mengaku orang awam di dunia gula, tetapi adalah konsumen yang sehari-hari menggunakan gula. “Untuk membantu petani gula malang raya ini, kita menghimbau teman-teman untuk membeli produk lokal. Supaya bisa terserap. Mudah mudahan dengan ke arah ketiga organisasi ini, nantinya akan diikuti oleh berbagai komunitas yang ada di malang. Sehingga masalah gula ini cepat teratasi,” ungkapnya.

Kembali ia ingin, bahwa pihaknya bukan bermain di ranah gula, karena bukan bidangnya, namun murni bentuk keprihatinan terhadap masalah petani gula dan ingin membantu petani melalui gerakan ini. Ia juga berharap, pemerintah bisa segera memberikan solusi yang terkait permasalahan ini.

“Harapan kami, pemerintah lebih bisa, karena harus lebih prioritas gula rakyat mengontrol gula impor,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan pihak PHRI Malang, Agus Basuki, bawa pihaknya sangat mendukung gerakan membeli gula lokal. “Karena hal ini adalah untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal khususnya,” ujarnya.

Tak beda dengan asosiasi lainnya, Suwanto, ketua APPBI Malang, menyatakan prinsip pihaknya prihatin dengan adanya kondisi tersebut.

“Makanya kami beberapa berasumsi untuk berkumpul guna membahas masalah ini. Kami mencoba turut andil dalam membantu menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Ia juga berharap, pemerintah segera menindaklanjuti masalah ini. Tidak mengatur regulasi agar gula lokal menjadi komoditi nomor satu di Negara Indonesia. “Jangan sampai kalah dan hancur sama gula import,” pungkasnya. (M.yus)

Pos terkait