Caption: dr. Widji Lestariono.
Banyuwangi, harianlenteraindonesia.co.id
Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi mencatat, sepanjang tahun kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) di Banyuwangi terus dijumpai. Artinya kasus DBD di Banyuwangi ini tidak pernah berhenti.
“Seluruh masyarakat harus mengantisipasi dan waspada terhadap terjangkitnya penyakit demam berdarah,” ujar dr. Widji Lestariono. Selasa (3/11/20).
“Pada tahun 2020 jumlah kasus DBD di Banyuwangi mengalami peningkatan dibandingkan dari tahun sebelumnya,” terang Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) Sudarto Setyo.
Sudarto Setyo mengatakan, dari bulan Januari hingga Oktober 2020 ada 219 kasus DBD, sedangkan tahun 2019 ada 138 kasus,” bebernya.
Terkait kasus yang meningkat, ia mengungkapkan karena pandemi virus corona, terutama pada awal-awalnya terjadi pandemi. Para petugas pemantau jentik dan petugas DBD yang ada di Puskesmas tidak bisa melakukan kunjungan rumah.

“Ditambah program Gertak PSN (Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk) dari Dinkes Banyuwangi yang biasanya rutin dilakukan setiap hari Jumat oleh warga tidak bisa berjalan di masa pandemi, karena mengundang keruman,” terang Sudarto lagi.
Meski di masa pandemi Covid-19, Sudarto mengungkapkan, pihaknya tetap berupaya melakukan pengendalian dan pencegahan DBD.
“Tanpa mengabaikan protokol kesehatan, mulai tahun 2020 bulan Juli kami menurunkan surat edaran kepada Puskesmas supaya kegiatan DBD dilaksanakan sesuai dengan pedoman pengendalian DBD,” ujarnya.
Menurut Sudarto, kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kebersihan utamanya di lingkungan rumah atau pekarangan masing-masing individu sangat penting, guna mencegah terjangkitnya penyakit DBD.
Pencegahan penyakit DBD juga bisa dilakukan dengan cara menerapkan pola 3M, yakni Menguras, Mengubur, dan menutup genangan air atau wadah yang menjadi tempat perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti.
“Karena nyamuk berdarah menular melalui gigitan nyamuk Aedes Aegyti. Maka yang bisa dilakukan adalah memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk tersebut,” jelasnya.
Selain itu, bersihkan pula tempat yang bisa memicu genangan air seperti pot atau vas bunga. Perlu diketahui, nyamuk Aedes Aegyti menyukai genangan air sebagai tempat bertelur.
Kemudian menutup rapat-rapat semua tempat penampungan air di antaranya gentong atau ember. Bisa juga dengan membalik tempat tersebut. Lalu, mendaur ulang dan mengubur barang bekas. Tak lupa, masyarakat perlu terus memantau jentik-jentik nyamuk. (Aji)






