
Banyuwangi,harianlenteraindonesia.co.id Kabupaten Banyuwangi saat ini banyak dijumpai peternak yang memiliki budidaya kambing perah baik Peranakan Etawa (PE) ataupun Sapera (Sanen Peranakan Etawa).
Kisah inspiratif dari Ahmad Ismanto, pria asal Desa Telemung Kalipuro, Banyuwangi. Kerja keras dan tidak mudah menyerah.
Ahmad Ismanto yang lebih dikenal dengan Antok Savatar karena memiliki peternakan Avatar Farm yang bergerak di kambing perah dan kontes.
Saat dikunjungi oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan didampingi dengan Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Ilham Juanda di kandangnya, Rabu (31/1) kemarin, Antok Savatar bercerita usahanya diawali pada tiga tahunan yang lalu memiliki 5 ekor, yang berfokus pada kambing kontes.
Semakin tinggi hasratnya beternak kambing, usaha dikembangkan ke kambing perah yang bisa mendapatkan dua keuntungan, baik itu anak dan susu kambing.
“Saat ini ternak yang kami miliki hampir 700 ekor, dimana pengelolaan dan pemeliharaan memberdayakan masyarakat sekitar dengan cara bagi hasil,” ujar Antok.
Bupati Ipuk menerangkan, cara demikian bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar kandang dan memberikan lapangan pekerjaan, dimana bagi hasil yang didapatkan lahir anak dibagi dua dan penjualan produk susu dibeli oleh pemilik.

“Saat produksi susu di Desa Telemung itu hampir 8.000 liter per bulan, jumlah yang tinggi untuk produksi sebuah cluster ternak kambing perah di desa,” ujar Ipuk.
Lalu, Ipuk menjelaskan, produksi susu ini akan dikirim ke perusahaan pengolah susu bubuk di Yogyakarta, dimana hasilnya akan dikirim ke seluruh Indonesia.
Pada kegiatan Bunga Desa ini, dilakukan pula pelayanan kesehatan hewan, pemberian vitamin dan mineral, vaksinasi PMK serta pemeriksaan kebuntingan dengan Ultrasonografi (USG).
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Ilham Juanda menjelaskan, dalam peternakan yang besar, penggunaan USG sangat memudahkan dalam mendeteksi kebuntingan pada kambing dan lebih efisiensi dalam peneguhan diagnosa reproduksi.
“Hal ini sangat mengingat pemeriksaan kebuntingan secara palpasi masih memerlukan pengalaman dan keahlian tertentu. Hal ini sangat membantu dalam budidaya ternak kambing dalam penerapan Good Farming Practise (GFP),” kata Ilham.
“Semoga semakin banyaknya masyarakat yang fokus pengembangbiakan ternak semakin membuat sejahtera dan meningkatkan ekonomi masyarakat Banyuwangi,” pungkasnya.
Penulis: Aji






