Jakarta Timur – harianlenteraindonesia.co.id Program pangan murah di Gerai Kelurahan Penggilingan kembali menuai
sorotan masyarakat. Warga menilai pendistribusian sembako murah tidak berjalan transparan
dan diduga ada kejanggalan, terutama terkait sistem antrian online serta minimnya pengawasan
di lapangan.
Berdasarkan pantauan jurnalis MediaLentera indonesia pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul
13.00 WIB, gerai terlihat sepi tanpa aktivitas pengambilan pangan murah oleh masyarakat. Kami duga situasi terjadi karena antrian online utk gerai sdh di lock karena sdh ada satua orang yang akan memesan dalam jumlah banyak
Kondisi tersebut berlangsung hingga pukul 17.00 WIB, sebagaimana terlihat dalam
dokumentasi foto di lokasi, sementara stok pangan murah justru tampak membludak dan
menumpuk di dalam gerai.
Kondisi ini menimbulkan kekecewaan dan tanda tanya di kalangan warga. Mereka
mempertanyakan mengapa barang pangan murah yang tersedia tidak disalurkan kepada
masyarakat hingga sore hari.
“Kalau memang untuk masyarakat, kenapa sampai jam lima sore barang masih penuh? Kenapa
tidak disalurkan saja secara OTS?” ujar seorang warga yang meminta identitasnya
dirahasiakan.
Sorotan warga juga mengarah kepada salah satu petugas gerai yang berinisial Z.
Warga menilai, sebagai petugas yang bertanggung jawab di lapangan, seharusnya distribusi
dilakukan secara terbuka dan tidak menimbulkan kecurigaan publik.
Warga mengungkapkan adanya pola yang dinilai janggal. Menurut mereka, selama jurnalis
berada di lokasi, stok pangan murah cenderung tidak bergerak. Namun, ketika tidak ada
pemantauan media, barang disebut cepat berkurang dalam waktu singkat.
Bahkan, warga secara terbuka meminta jurnalis untuk tidak melakukan pemantauan langsung
pada hari Minggu sebagai bentuk pembuktian.
“Untuk pembuktian, hari Minggu bapak jurnalis jangan ditongkrongin di gerai. Cukup
dipantau saja, datang beberapa jam sekali. Saya yakin barang pasti cepat keluar dan berkurang
banyak. Itulah permainan petugas gerai,” cetus warga yang meminta namanya dirahasiakan.
Warga menilai sistem antrian online justru mempersulit masyarakat dan membuka ruang
kecurangan, karena hanya petugas gerai yang mengetahui siapa yang terdaftar dan siapa yang benar-benar mengambil pangan murah.“Kalau antrian manual, antrian orang jelas kelihatan. Kalau online, kami tidak tahu siapa yang
ambil. Petugas saja yang tahu,” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, tidak terlihat adanya layanan OTS (on the spot) di Gerai
Kelurahan Penggilingan Jakarta Timur. Warga menilai ketiadaan OTS dan lemahnya
pengawasan memperbesar potensi terjadinya praktik-praktik yang tidak diinginkan.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat Kelurahan Penggilingan mendesak agar minimal
satu jurnalis berada di dalam gerai setiap kali distribusi pangan murah dilakukan guna
memastikan transparansi dan mencegah dugaan kecurangan.
Masyarakat juga meminta Pasar Jaya untuk turun langsung melakukan evaluasi menyeluruh,
menghapus sistem antrian online, serta memberikan sanksi tegas kepada petugas gerai yang
terbukti melanggar aturan.
Warga menegaskan bahwa program pangan murah bukan bantuan gratis, melainkan program
berbayar menggunakan saldo masyarakat. Oleh karena itu, mereka meminta agar
pelaksanaannya tidak mempersulit masyarakat dan dilakukan secara adil serta transparan. Kami mempertanyakan mitigasi yang dikeluarkan oleh pasar jaya kepada petugas Gerai pasarjaya. Apa memang seenak mereka buat aturan? Sudah sepantasnya pihak manajemen pasar jaya bersikap tegas terhadap petugas gerai yang berbuat nakal di gerai.
( Red )






